Respon kerusuhan pekerja di PT GNI, Said Didu: Terlalu banyak karpet merah diberikan kepada perusahaan asing

- Minggu, 22 Januari 2023 | 06:33 WIB
Manusia merdeka cemen menangis, cerita Said Didu lebay. (kata logika)
Manusia merdeka cemen menangis, cerita Said Didu lebay. (kata logika)

BICARABERITA – Terjadi bentrokan tenaga kerja asing (TKA) dengan tenaga kerja Indonesia di PT Gunbuster Nickel Industri (PT GNI) di Morowali Utara mendapatkan perhatian yang cukup serius dari berbagai pihak.

Kejadian yang menewaskan dua orang tersebut menuai komentar beragam dari banyak orang bahkan publik figur tanah air. Dalam hal ini, perusahaan milik China di Morowali Utara itu dimintai pertanggungjawaban dan penjelasan tentang sumber permasalahan yang terjadi.

Berdasarkan keterangan yang diterima media dari siaran pers Serikat Pekerja Nasional (SPN), bentrokan terjadi akibat adanya protes dan mogok kerja yang dilakukan oleh pekerja di PT GNI Morowali Utara.

Baca Juga: Lakukan VIBE challenge bersama, Felix dan Hyunjin Stray Kids sulit tutupi sisi fanboy ke Taeyang BIGBANG

Menanggapi hal demikian, seorang mantan sekretaris menteri BUMN yaitu Said Didu menyampaikan bahwa perusahaan asing tersebut sangat arogan. Pernyataan itu disampaikan saat diskusi ILC (Indonesia Lawyers Club) yang di pandu oleh Karni Ilyas.

Menurut pria lulusan ITB tersebut, pemerintah terlalu memberikan keistimewaan terhadap perusahaan asing di Indonesia, termasuk PT GNI di Morowali Utara.

“Jadi saya katakan perusahaan ini memang terlalu banyak karpet merah yang diberikan kepadanya, sehingga menjadi arogan,” ujar Said Didu ketika menyampaikan pandangnya di acara ILC.

Baca Juga: Karina aespa ungkap kisah horor usai prerecording, Karina: Kita keluar, Winter menangis

Said Didu juga menegaskan bahwa, wajar saja jika terjadi kemarahan dari warga negara Indonesia terhadap keistimewaan yang diberikan kepada perusahaan asing tersebut.

Keistimewaan atau karpet merah yang di istilahkan Said Didu adalah upaya dari pemerintah agar perusahaan asing terus berinvestasi di Indonesia. Menurutnya, hal itu bisa dilakukan tetapi tidak boleh berlebihan.

Halaman:

Editor: Asjeni Putri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X