• Minggu, 3 Juli 2022

Sekilas Tentang 'Pramoedya Ananta Toer', Tokoh Indonesia yang Menulis Banyak Karya dalam Penjara

- Jumat, 20 Mei 2022 | 19:59 WIB
Pramoedya Ananta Toer. (Pikiran Rakyat)
Pramoedya Ananta Toer. (Pikiran Rakyat)

BICARABERITA - Pramoedya Ananta Toer, salah satu tokoh Indonesia yang patut dikenang sepanjang masa. Pribumi cerdas ini lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah.

Hampir seluruh hidup Pramoedya Ananta Toer dihabiskan dalam penjara. Lebih kurang 20 tahun Pramoedya Ananta Toer hidup dalam perasingan.
 
3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun di orde lama, dan 14 tahun yang melelahkan di orde baru ( 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Pulau Nusa Kembangan Juli 1969 - 16 Agustus 1969, Pulau Buru Agustus 1969 - 12 November 1979, Magelang/Banyumanik November - Desember 1979) tanpa proses pengadilan.
 
 
Baru pada tanggal 21 Desember 1979, Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI, tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, dan tahanan negara.
 
Hukuman tersebut berlaku sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. 
 
Hukuman penjara dan tahanan tak membuat beliau berhenti menulis. Karena baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Pramoedya pun menerima konsekuensi terhadap semua yang ia peroleh, termasuk berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.
 
Beberapa karyanya yang lahir di tempat tahanan di antaranya adalah Tetralogi Buru yang terdiri dari 4 roman buku (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).
 
Sebelum dituliskan, roman Tetralogi Buru diceritakan ulang oleh teman-temannya di Pulau tersebut (Buru). Ada dua maksud mengapa itu dilakukannya, yang pertama bahwa penulisnya memang menguasai crita yang dimaksud.
 
Kedua, agar cerita tersebut tidak hilang dari ingatan yang tergerus oleh datang perginya peristiwa seiring usia yang kian menuai.
 
Tulisan Tetralogi ini mengambil latar kebangunan dan cikal bakal Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya, waktu kita dibalikkan sedemikian rupa, seolah hidup di era pergerakan nasional awal mula.
 
Tulisan-tulisan Pak Pramoedya punya gayanya sendiri. Pram coba mengajak, bukan saja ingatan tapi juga rasa, pikir, bahkan diri untuk bertarung dalam gerakan nasional awal abad. 
 
Dengan bahasa Pram yang khas, pembaca diseret untuk mengambil peran di antara tokoh-tokoh yang ditampilkannya.
 
Dari tangannya telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya yang luar biasa, beliau dianugerahi banyak penghargaan internasional dan penhormatan.
 
 
Di antaranya: 
 
1. The PEN Freedom-to write Award pada 1988
2. Ramon Magsaysay Award pada 1995
3. Fukuoka Cultur Grand Price pada 2000
4. The Norwegian Authors Union pada 2003
5. Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar pada 2004.
 
Dan juga beberapa penghargaan nasional. Sampaii akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang Nobel Sastra.***

Editor: Veliciana Gracica

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X